Terkadang kita sering berdebat
akan pentingnya membaca dan seringkali menomorduakan menulis. Kita terlalu
fokus pada kehebatan berapa banyaknya bahan bacaan yang telah kita ‘lahap’.
Tanpa kita sadar bahwa membaca juga masih memiliki beberapa kekurangan. Dengan
menulis kita akan bisa dapatkan banyak manfaat di dalamnya, kita bisa membagi
ilmu kita dan juga memudahkan kita untuk mengingat berbagai hal yang telah kita
baca.
Ada yang bilang menulis itu
susah, memerlukan waktu yang cukup banyak, dan berbagai alas an lainnya.
Padahal menulis itu sama sekali gak susah, malah kita dari kecil juga telah
terbiasa untuk menulis berbagai hal dalam hidup kita. Coba lihat saat kita
kecil terkadang suka mencoret=coret tembok yang ‘tak bersalah’, atau menulis
contekan disaat ujian sekolah. Tuh, menulis secara tidak langsung pernah kita
lakukan dalam kehidupan. Tapi mulai kapan kita mau serius? Apa perlu serius
dalam menulis sebuah hal? Itu semua pertanyaan yang seharusnya bisa menjadi
bahan pertimbangan sebelum membaca artikel ini.
Menulis adalah buah dari membaca,
jika membaca adalah akar dari sebuah pohon, maka menulis adalah buah yang bisa
kita rasakan manfaatnya. Membaca tanpa menulis bagaikan sebuah pohon yang tidak
berbuah. Ada tapi tidak akan membuat manfaat yang maksimal. Membaca dan menulis
akan saling melengkapi satu sama lain, seperti halnya sebuah al-kitab, dimana
semua orang mencatatnya agar tidak hilang ditelan oleh zaman.
Menulis tidaklah perlu dibuat
rumit, tak perlu berlembar-lembar dan tersusun dalam beberapa bab. Menulis tak
serumit itu, bahkan lebih mudah. Semua orang bisa, asal tidak enggan
melakukannya. Kutu juga suka menulis, mulai dari hal termudah hingga hal
tersusah dalam hidup kutu. Tulisan mampu menjadi penasihat kita, pengingat, dan
juga motivator pribadi kita. Hal termudah yang bisa kita lakukan, tapi bisa
membawa dampak besar dalam kehidupan kita.
Orang-orang sukses mengawali
kesuksesan mereka dengan beberapa tulisan kecil yang mereka buat, tulisan kecil
yang mengingatkan tujuan mereka, rencana di masa depan, dan berbagai hal-hal
yang mereka perlu tuliskan sebagai bahan pelajaran untuk melangkah ke depan.
Tulisan tak harus selalu berupa coretan, terkadang bisa berupa gambar, yang
mengekspresikan dirimu dalam menatap kehidupan. Dengan kata lain, gambar adalah
tulisan yang mempunyai perasaan di dalamnya.
Menulis di masa muda adalah
cahaya, dan menulis di masa tua adalah kebijakan. Tulisan adalah cahaya yang
akan membimbingmu dan orang-orang di sekitarmu. Banyak orang sukses yang
menyuruh setiap orang menulis impiannya, terkadang hingga 100 IMPIAN. Mungkin
mereka tak salah menyuruh kita melakukan hal yang terlihat berlebihan, tapi
untuk menjadi besar perlu berbuat hal lebih bukan. Nikmatilah prosesnya, dan
tuliskan setiap pelajaran yang kau dapatkan. Mungkin, bila kau telah sukses
nanti, kau juga bia membimbing para generasimu, anak cucumu, dengan
tulisan-tulisan kecil yang kalian buat. Bukankah tulisan dimasa tua adalah
kebijakan?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar