Visitor
Minggu, 21 Juni 2015
Esensi Puasa
Puasa sudah kita jumpai sahabat, bulan yang dikatakan penuh berkah dan penuh ampunan dari-Nya. Berbondong-bondong orang datang ke masjid, bersedekah sebanyak-banyaknya, serta saling memohon maaf dengan para kerabat dan saudara. Ramadhan memang memberikan kesan yang berbeda disaat kita menjumpainya, ada orang yang biasanya biasa-biasa saja tiba-tiba menjadi sealim pak kyai. Kesana kemari mengucapkan salam (Bukan salam perpisahan lho.."), sampai dikira temennya kesurupan (nah lho).
Itulah sekelumit tentang bulan Ramadhan versi si kutu, "Ramadhan oh ramadhan" ada yang mengatakannya seperti itu. Kutu juga senang disaat Ramadhan datang, tapi kutu berusaha untuk tidak berlebihan menyambutnya. Sebagaimana kehidupan biasanya, kutu tetap menjalankan aktivitas yang kutu sukai, tidak bermalas-malasan dan selalu berbuat hal yang terbaik untuk kehidupan kutu sendiri. menulis blog, dan berbagi cerita dengan kalian semua.
Ramadhan itu ibarat sebuah oase di gurun pasir, benar-benar menyegarkan dan membawa kabar gembira bagi siapa saja yang menjumpainya. Tapi perlu diingat, oase itu juga harus dijaga dan jangan dikotori, agar musafir selanjutnya juga dapat merasakan kesegaran oase yang akan ditemuinya. Segar dan dinginnya oase Ramadhan akan sejenak membuat kita melupakan sejenak berbagai permasalahan kehidupan, memfokuskan ibadah kita kepada Allah Swt dan saling berbuat baik kepada sesama.
Bila Ramadhan memang begitu berharga, maka bulan puasa ini juga tak layak disandingkan dengan kesegaran lainnya semacam iklan sirup atau berbagai es yang dijajakan di pasar kaget Ramadhan. Perlu diingat, makan dan minumlah secukupnya. Jangan berlebihan disaat sahur maupun berbuka. Di bulan puasa kita kan tidak hanya menahan nafsu saja, tapi juga turut merasakan penderitaan orang-orang miskin di sekitar kita. Ibarat kata klo maen itu yang 'fair', jadi klo disuruh ngerasain penderitaan jangan makan dan minum secara berlebihan. okay kawan.. ^_^
Jumat, 19 Juni 2015
Si Raja Panjat
Suatu hari di daerah Majalengka ada seorang anak bernama Ujang, dia dilahirkan dari keluarga yang sangat sederhana namun bersahaja. Ujang sama seperti anak lain seusianya, dia sangat suka bermain dan tak lupa membantu orang tuanya yang bekerja sebagai buruh tani. Dia sangat suka membajak sawah dan berlomba menancapkan batang padi di sawah.
Ujang memiliki tiga teman dekat, mereka adalah teman satu desa. Mereka biasa dijuluki kwartet UNTA, nama yang lucu sekaligus singkatan dari nama mereka berempat. Ujang sebagai anak yang ambisius, Nadia sebagai wanita yang tomboy namun ceria, Tarjo dan juga Ansor yang selalu ribut masalah mainan mereka yang terbaru. Mereka berempat memang sangat berbeda, tapi karena itulah mereka menjadi sangat akrab dan saling bahu membahu menghadapi masalah yang mereka hadapi.
Ujang terkenal sebagai 'pemecah rekor' di desanya, apalagi saat diadakan lomba panjat pohon dengan kampung lain. Dia pasti sangat bersemangat, bahkan jauh-jauh hari sebelum pertandingan Ujang pun tak lupa tuk menyempatkan latihan, ditemani dengan kwartet UNTA pastinya. Ujang selalu penasaran untuk memanjat pohon yang lebih tinggi lagi, lagi, dan lagi.
Ujang seperti biasa berhasil memenangkan pertandingan yang diikutinya. Itulah kenapa banyak orang-orang desa yang menyegani bocah satu ini. Bahkan si Ujang biasa dipanggil 'Sujay' oleh anak-anak desa disana, 'Sujay' sendiri singkatan dari 'Si Ujang Jaya' karena Ujang sudah terbiasa memenangkan berbagai pertandingan di desanya. Si Ujang, Raja Panjat dari Majalengka. Begitulah si Ujang dielu-elukan di desanya.
Si Ujang pada suatu hari merasa bosan karena tak ada tantangan berupa pohon tinggi yang bisa ia panjat, hingga ia pun akhirnya bertemu dengan seorang anak perempuan yang melihat dirinya dengan sinis dan tanpa kekaguman sedikitpun. Si Ujang merasa penasaran dengan anak tersebut dan mulai menghampirinya, Di dalam percakapan mereka berdua Ujang akhirnya tahu bila anak wanita itu bernama Roro. Dia adalah anak seorang saudagar perkebunan di Majalengka, Roro tampak ingin menangis, dan si Ujang pun turut gelisah melihat wajah Roro yang mulai memerah.
Ujang pun memberanikan diri untuk bertanya atas hal yang digelisahkan Roro pada saat ini. Roro awalnya merasa ragu-ragu tuk bercerita, tapi dengan melihat ketulusan si Ujang untuk membantunya ia jadi merasa ringan untuk menceritakan segala masalahnya. Roro pun bercerita panjang lebar tentang segala masalahnya kepada Ujang, ia kini mulai mengerti akan masalah yang sedang Roro hadapi. Ia mulai bergegas menemui geng UNTAnya dan mengajak mereka untuk ikut membantu.
Si Ujang kini mulai sadar bahwa kemampuan panjatnya itu benar-benar sangat berharga, si Roro yang dikenalnya ternyata adalah anak seorang saudagar perkebunan. Namun sayang, pegawainya yang bertugas sebagai pemanjat pohon sedang sakit dan ayahnya pun juga sama. Untung dia bertemu si Ujang, si pemanjat ulung asal Majalengka. Ujang dan ketiga temannya bahu-membahu untuk memanen hasil perkebunan bersama-sama. Hingga akhirnya mereka dijamu dengan sangat baik oleh Roro dan para pelayannya. Geng UNTA pun sangat senang karena diakhir pekerjaan mereka mendapat sejumlah uang sebagai ucapan terima kasih dari si Roro yang akhirnya menjadi teman di petualangan mereka berikutnya.
Kamis, 18 Juni 2015
Puisi Kehidupan
Jalan yang kupilih
kuberjalan di sebuah persimpangan kesuksesan dan penderitaan
banyak sekali aral rintang yang kernyitkan dahi
ku harus memilih
bila pilihanku hanya untuk hari ini
aku tak dewasa seperti halnya kedua orang tua mendidikku
ku harus memilih
mataku terpejam sejenak berpikir masa lewatku
kasih sayang mereka segarkan hatiku
ku memang harus memilih
jalan yang kutuju
jalan yang kuingin
ku akan memilih
Langganan:
Postingan (Atom)


