Visitor

Jumat, 19 Juni 2015

Si Raja Panjat


Suatu hari di daerah Majalengka ada seorang anak bernama Ujang, dia dilahirkan dari keluarga yang sangat sederhana namun bersahaja. Ujang sama seperti anak lain seusianya, dia sangat suka bermain dan tak lupa membantu orang tuanya yang bekerja sebagai buruh tani. Dia sangat suka membajak sawah dan berlomba menancapkan batang padi di sawah.

Ujang memiliki tiga teman dekat, mereka adalah teman satu desa. Mereka biasa dijuluki kwartet UNTA, nama yang lucu sekaligus singkatan dari nama mereka berempat. Ujang sebagai anak yang ambisius, Nadia sebagai wanita yang tomboy namun ceria, Tarjo dan juga Ansor yang selalu ribut masalah mainan mereka yang terbaru. Mereka berempat memang sangat berbeda, tapi karena itulah mereka menjadi sangat akrab dan saling bahu membahu menghadapi masalah yang mereka hadapi.

Ujang terkenal sebagai 'pemecah rekor' di desanya, apalagi saat diadakan lomba panjat pohon dengan kampung lain. Dia pasti sangat bersemangat, bahkan jauh-jauh hari sebelum pertandingan Ujang pun tak lupa tuk menyempatkan latihan, ditemani dengan kwartet UNTA pastinya. Ujang selalu penasaran untuk memanjat pohon yang lebih tinggi lagi, lagi, dan lagi.

Ujang seperti biasa berhasil memenangkan pertandingan yang diikutinya. Itulah kenapa banyak orang-orang desa yang menyegani bocah satu ini. Bahkan si Ujang biasa dipanggil 'Sujay' oleh anak-anak desa disana, 'Sujay' sendiri singkatan dari 'Si Ujang Jaya' karena Ujang sudah terbiasa memenangkan berbagai pertandingan di desanya. Si Ujang, Raja Panjat dari Majalengka. Begitulah si Ujang dielu-elukan di desanya.

Si Ujang pada suatu hari merasa bosan karena tak ada tantangan berupa pohon tinggi yang bisa ia panjat, hingga ia pun akhirnya bertemu dengan seorang anak perempuan yang melihat dirinya dengan sinis dan tanpa kekaguman sedikitpun. Si Ujang merasa penasaran dengan anak tersebut dan mulai menghampirinya, Di dalam percakapan mereka berdua Ujang akhirnya tahu bila anak wanita itu bernama Roro. Dia adalah anak seorang saudagar perkebunan di Majalengka, Roro tampak ingin menangis, dan si Ujang pun turut gelisah melihat wajah Roro yang mulai memerah.

Ujang pun memberanikan diri untuk bertanya atas hal yang digelisahkan Roro pada saat ini. Roro awalnya merasa ragu-ragu tuk bercerita, tapi dengan melihat ketulusan si Ujang untuk membantunya ia jadi merasa ringan untuk menceritakan segala masalahnya. Roro pun bercerita panjang lebar tentang segala masalahnya kepada Ujang, ia kini mulai mengerti akan masalah yang sedang Roro hadapi. Ia mulai bergegas menemui geng UNTAnya dan mengajak mereka untuk ikut membantu.

Si Ujang kini mulai sadar bahwa kemampuan panjatnya itu benar-benar sangat berharga, si Roro yang dikenalnya ternyata adalah anak seorang saudagar perkebunan. Namun sayang, pegawainya yang bertugas sebagai pemanjat pohon sedang sakit dan ayahnya pun juga sama. Untung dia bertemu si Ujang, si pemanjat ulung asal Majalengka. Ujang dan ketiga temannya bahu-membahu untuk memanen hasil perkebunan bersama-sama. Hingga akhirnya mereka dijamu dengan sangat baik oleh Roro dan para pelayannya. Geng UNTA pun sangat senang karena diakhir pekerjaan mereka mendapat sejumlah uang sebagai ucapan terima kasih dari si Roro yang akhirnya menjadi teman di petualangan mereka berikutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar